Sunday, February 20, 2011

God's Admonition in The Last Day of My Life as A Teenager :)

Sebelumnya...
Selamat Hari Minggu, semuanya! :)

Gw mau sharing aja tentang apa yang gw dapatkan hari ini. So, hari ini adalah Hari Minggu dan sebagai seorang Kristen gw pun pergi ke gereja untuk beribadah. Gw termasuk orang yang rajin ke gereja tiap minggu, meskipun terkadang bolong-bolong juga sih. Hhe. Tapi seringnya seseorang ke gereja itu belum tentu mencerminkan kalau orang tersebut sangat sangat sangat baik dan tidak bercela atau semacamnya. Justru ada juga yang karena saking rajinnya ke gereja, hal tersebut malah terlihat biasa dan terkesan hanya rutinitas saja untuk dirinya. Yah, kadang gw mengalami perasaan kayak gitu sih. Dimana gw sekadar datang, duduk, nyanyi, tapi pas khotbah malah mengantuk atau mengobrol sama teman sebelah. Urgh. Maaf ya, Tuhan. :(

Tapi hari ini beda. Sangat beda.
Hari ini bisa dibilang gw sangat menikmati kebaktian di gereja dari awal hingga akhir. Apalagi saat lagu pujian sebelum pengakuan dosa. Lagu yang dinyanyikan adalah "Pulihkan Negeri Kami". Gw ikut bernyanyi tetapi sampai di tengah lagu, gw ga mampu lagi menyanyikan lagu tersebut dan mulai pengen nangis. Dan tibalah saatnya pengakuan dosa, dimana saatnya gw berdoa mengakui dosa-dosa gw sama Tuhan dan mohon ampun sama Tuhan, tapi gw... gw speechless dalam doa gw. Bahkan itu harusnya doa dalam hati, tapi gw tetap ga mampu ngomong apa-apa dalam hati. Gw cuma bisa nangis. Menyadari betapa selama ini gw rese abis jadi orang, betapa egoisnya gw, betapa gw mengecewakan Tuhan. Tapi lihat apa yang Tuhan balas untuk sikap gw yang seperti itu? Berkat-berkat yang countless. Countless. :')

Lalu, singkat cerita, tiba saat khotbah. Inti khotbah hari ini adalah tentang majikan dan budak. Berkaitan dengan perikop, Inang Pendeta meceritakan suatu ilustrasi mengenai seseorang yang pada suatu hari melihat ada seorang gadis belia yang diperjualbelikan sebagai budak. Ia merasa iba terhadap gadis tersebut, hingga akhirnya ia "membeli" gadis tersebut. namun, keesokan harinya orang tersebut mengutus bawahannya untuk memberikan surat kepada gadis tersebut. Gadis tersebut pun membuka surat itu dan membaca tulisan di dalamnya: FREE. BEBAS. Yang artinya gadis tersebut sekarang bukan lagu budak siapapun. Ia adalah miliknya, dirinya sendiri. Saking senangnya gadis itu, ia pun bertanya kepada pembawa surat, "Siapakah yang membeli dan membebaskan saya itu? Saya ingin mengabdi padanya selamanya." Itu menunjukkan betapa besar rasa terima kasih gadis itu terhadap orang yang membebaskan ia.

Lalu, refleksi diri. Sebenarnya cerita tersebut merupakan ilustrasi atas kisah Allah dan manusia. Allah, yang telah rela mengorbankan Putra-Nya yang tunggal, telah membebaskan kita, umat manusia, dari belenggu dan perbudakan dosa. Ia telah menyelamatkan kita dari maut. Namun, apakah respon kita atas berkat tersebut? Bersyukurkah kita? Seperti gadis yang berkomitmen untuk mengabdi pada pembebasnya selamanya, begitukah kita?

Sebelum jawab pertanyaan itu, ini dulu deh... Sebenarnya kita sadar nggak sih berapa harga keselamatan yang Tuhan kasih ke kita? Kalau kita sadar betapa priceless yang Tuhan berikan ke kita, tentu kita tidak akan menyia-nyiakannya dengan segala tindakan dan sikap kita yang masih seringkali mengecewakan Tuhan. Kalu kita sadar betapa priceless berkat yang Tuhan berikan kepada kita, kita pasti akan bersikap seperti gadis tadi, memberikan diri kita sepenuhnya kepada Allah sebagai wujud syukur atas keselamatan kita. About the answer, just say it in your heart. :)

Nah, tadi Inang Pendeta juga ada berbicara seperti ini, "Saya melihat wajah Kristus di wajah-wajah kalian, wajah yang penuh dengan senyuman, juga yang penuh dengan kesulitan yang sudah dilalui bersama-sama dengan Tuhan..." Dan saat itu, gw hanya bisa menunduk. Antara mau nangis, juga malu sama Tuhan. Pantaskah... pantaskah gw dibilang mencerminkan wajah Kristus? Mengingat betapa useless-nya dan seringnya gw mengecewakan Tuhan, pantaskah gw dibilang mencerminkan wajah Kristus? I couldn't stand it, I started to cry. :'(

Pokoknya, khotbah dan lagu-lagu di gereja hari ini benar-benar menyentuh dan menohok gw. Gw berpikir Tuhan menegur gw banget banget banget hari ini. Gw harus berubah mulai sekarang. Hingga pada saatnya gw benar-benar pantas menerima ucapan "Kau mencerminkan wajah Kristus." dengan senyuman. Mungkin akan bayak rintangan, tapi kalau ada niat dan bimbingan dari Tuhan niscaya bisa. I'll try, I'll pray. Bless me, God! Amen. :)

with gratefulness,
sterpatrz :)

0 comments: